Meutya Hafid Sebut Nama Telkomsel, Indosat dan XLSmart

Menkomdigi Meutya Hafid
Sumber :
  • VIVA/Fajar Ramadhan

Digital, VIVA - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyebut jika ruang digital tidak bisa dikelola oleh satu pihak, tapi perlu kolaborasi.

img_title Senjata Baru Lintasarta Ini bukan Sekadar Marketplace

Ia mengaku kebijakan hanya berdampak jika dijalankan bersama dan diuji langsung di lapangan.

“Dunia digital bukan ruang yang bisa dijaga oleh satu pihak. Regulasi tidak akan bermakna tanpa kepatuhan, dan kebijakan tidak akan berdampak tanpa keterlibatan semua pihak. Sinergi menjadi kunci," kata dia di Jakarta, Rabu, 24 Desember 2025.

img_title 'Trust is the New Currency': Pesan Keras Wamenkomdigi

Salah satunya, menurut menkomdigi, tercermin dari penanganan gangguan layanan telekomunikasi saat banjir melanda Sumatra.

Dalam forum tersebut, Meutya Hafid menyampaikan apresiasi kepada Telkomsel, Indosat, dan XLSmart atas respons cepat sejak hari pertama bencana dan komunikasi rutin selama proses pemulihan.

img_title Telkomsel Turunkan 'Bodyguard' Sinyal, Jaga Nataru Tetap Stabil

“Yang kami lihat bukan laporan di atas kertas. Tim turun ke lapangan dan bergerak cepat. Ini contoh kolaborasi yang bekerja,” tegasnya.

Dampak kolaborasi tersebut terlihat dari capaian pemulihan jaringan. Layanan telah pulih 99 persen di Sumatra Barat dan hampir 98 persen di Sumatra Utara.

Sedangkan di Aceh, pemulihan fisik infrastruktur telekomunikasi mendekati 90 persen.

“Angka ini menjadi pengingat bahwa tugas belum selesai. Di balik setiap persentase, ada warga yang menunggu sinyal untuk berkomunikasi dengan keluarga, mengakses informasi, bahkan menyelamatkan diri,” tutur menkomdigi.

Pengalaman lapangan tersebut dinilai dapat menjadi cermin kebijakan. Koordinasi online harian antara pemerintah dan operator tidak berhenti pada laporan teknis.

Fokusnya memastikan layanan kembali aktif secepat mungkin di titik terdampak. Di tengah pertumbuhan industri digital yang semakin beragam, Meutya Hafid menilai ekosistem yang terbuka dan inklusif sebagai kekuatan utama.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kemkomdigi Wayan Toni Supriyanto menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur digital tidak boleh berhenti pada indikator teknis.

“Kami memegang peran strategis di garda depan untuk mempercepat pemerataan infrastruktur digital, memperkuat sinyal, mengurangi blank spot, serta memperluas jangkauan jaringan hingga wilayah yang selama ini sulit terhubung,” ujar dia.

Wayan menegaskan bahwa konektivitas menentukan akses warga untuk belajar, bekerja, dan berusaha. Tanpa pondasi digital yang kuat, transformasi digital tidak akan berjalan.

Kemkomdigi menetapkan 2025 menjadi titik awal penguatan pondasi menuju Indonesia Digital 2045. Pada fase 2025 hingga 2029, pemerintah memfokuskan pembangunan infrastruktur yang stabil dan berkapasitas tinggi.

“Targetnya terukur. Fiber optik menjangkau 90 persen kecamatan. Mobile broadband mencakup 98 persen populasi. Kecepatan internet fixed dan mobile mencapai 100 Mbps pada 2029,” jelas Wayan.