Teknologi Baterai EV Lokal Mulai Terbangun
- VIVA/Yunisa Herawati
Ia menjelaskan, keberadaan pabrik baterai cell akan mendorong masuknya berbagai industri pendukung, mulai dari penyedia material, komponen, hingga sektor daur ulang baterai. Pola ini dinilai penting untuk membangun rantai pasok yang berkelanjutan dan tidak bergantung pada impor.
Dari sisi industri, dampak paling cepat dirasakan adalah kepastian pasokan baterai bagi para produsen kendaraan listrik (OEM dan assembler). Rian menekankan bahwa produksi lokal dengan standar kualitas yang jelas akan menurunkan hambatan masuk bagi pemasok domestik.
“Dampak instan yang akan dirasakan industri adalah kepastian pasokan bagi para produsen kendaraan. Kehadiran standar kualitas yang jelas di dalam negeri akan menurunkan hambatan masuk bagi pemasok lokal dan mempercepat pembangunan SDM di bidang teknologi tinggi,” jelasnya.
Menurut Rian, pembangunan SDM teknologi tinggi menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga mampu menguasai proses dan kualitas manufaktur baterai sesuai standar global.
Rian juga menegaskan bahwa industrialisasi baterai menandai perubahan posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Negara ini tidak lagi hanya mengandalkan ekspor mineral mentah, tetapi mulai bergerak ke arah produksi barang bernilai tambah tinggi.
“Itu adalah modal tawar kita. Tapi nilainya baru benar-benar naik jika sudah menjadi produk bernilai tinggi. Ukuran daya saing kita bukan lagi berapa ton bijih nikel yang dihasilkan, melainkan kualitas sel baterai dan kemampuan industri yang konsisten serta memenuhi standar pabrikan global,” tambahnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa daya saing industri kendaraan listrik tidak ditentukan oleh ketersediaan sumber daya alam semata, melainkan oleh penguasaan teknologi dan kualitas manufaktur.