OpenAI dan Perusahaan AI Lain Incar Google Chrome, Apa Untung Ruginya Bagi Pengguna?

Ilustrasi Google Chrome
Sumber :
  • Freepik

Menariknya, tawaran ini muncul menjelang peluncuran browser baru milik Perplexity sendiri bernama Comet. Jadi, mengapa mereka ingin membeli Chrome jika sudah punya browser? Jawabannya sederhana: distribusi pengguna.

img_title Senjata Baru Lintasarta Ini bukan Sekadar Marketplace

Dengan membeli Chrome, Perplexity tidak perlu bersusah payah membujuk miliaran pengguna berpindah, karena mereka otomatis sudah mendapatkan basis pengguna yang ada.

Namun, sebagian pihak menilai tawaran Perplexity terlalu rendah. Mark Weinstein, pakar privasi digital, menyebut harga wajar Chrome bisa mencapai $340 miliar atau lebih dari Rp5.500 triliun, mengingat nilai data miliaran pengguna yang melekat di dalamnya.

Kenapa Perusahaan AI Tertarik Punya Browser Sendiri?

img_title Galaxy AI Mengubah Cara Kita Tingkatkan Produktivitas dan Kreativitas

Menurut Chris Ferris dari Pierpont Communications, salah satu rahasia kesuksesan Google adalah karena fungsi pencarian terintegrasi di Chrome. Jika perusahaan AI memiliki browser, mereka bisa mengubah kolom alamat menjadi semacam kotak pertanyaan AI.

Andrew Gamino-Cheong, co-founder Trustible, menambahkan ada tiga alasan utama perusahaan AI ingin punya browser:

  1. Integrasi AI agent lebih mudah dengan akun pengguna.
  2. Menghindari hambatan anti-scraping di berbagai situs.
  3. Bisa mengidentifikasi apakah sebuah teks ditulis manusia atau AI.
Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Menyoroti Peran HR di Era Kecerdasan Buatan