Bahaya Curhat ke ChatGPT: Pakar Peringatkan Bisa Bikin Mental Makin Runtuh
- ChatGPT
Menurut penelitian dari Stanford, chatbot terapi tidak seefektif terapis manusia dan justru bisa menimbulkan respons berbahaya jika digunakan saat krisis. ChatGPT, misalnya, tidak mampu membaca bahasa tubuh, nada suara, atau ekspresi wajah yang penting dalam deteksi dini kondisi serius seperti depresi berat atau niat bunuh diri.
American Psychological Association bahkan menilai penggunaan chatbot sebagai terapis tanpa izin adalah tidak etis dan berbahaya.
Privasi dan Risiko Penyalahgunaan Data
Selain bahaya psikologis, ada ancaman lain yang tak kalah serius: privasi. Data curhat yang dimasukkan ke chatbot berpotensi disimpan, digunakan untuk iklan, bahkan dijual ke pihak ketiga. Pakar teknologi Heru mengingatkan bahwa hal ini bisa menjadi bom waktu bila data pribadi jatuh ke tangan yang salah.
AI Bukan Pengganti Hubungan Manusia
Fenomena curhat ke ChatGPT memang terasa nyaman, tetapi penting diingat bahwa AI bukan manusia. Ia tidak punya empati, tidak bisa memahami latar belakang personal, dan rawan memperkuat pikiran negatif.
Jika sedang menghadapi masalah mental, cara terbaik tetaplah mencari bantuan dari teman, keluarga, atau tenaga profesional. ChatGPT mungkin bisa menjadi alat bantu, tetapi tidak layak dijadikan sandaran utama dalam mengatasi krisis emosional.