Di Balik Teknologi EV Dunia, Ada Peran Besar Indonesia

Industri otomotif jepang
Sumber :
  • The Japan Times

VIVA Digital – Industri kendaraan listrik dunia terus mengalami lonjakan permintaan seiring transisi menuju energi bersih. Namun, di balik pesatnya perkembangan teknologi EV (Electric Vehicle), ada satu komponen penting yang menopang ekosistemnya: aluminium. Dan kini, Indonesia menjadi salah satu pemain kunci dalam rantai pasok global logam ringan tersebut.

img_title Logitech Resmi Tunjuk Sinem Pimpin Asia Tenggara, Siapa Dia?

Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch, Ferdy Hasiman, menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok aluminium dunia. Melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) di bawah kendali holding tambang MIND ID, Indonesia kini berpeluang menjadi penopang utama bahan baku industri otomotif global, terutama bagi Jepang, Korea Selatan, dan Cina.

“Dengan mengontrol INALUM, Indonesia mampu mengontrol bahan baku bagi industri otomotif global, terutama Jepang dan Korea Selatan yang menguasai pasar dunia otomotif,” ujar Ferdy dalam keterangan resminya, dikutip Rabu, 5 November 2025.

img_title Upbit Bawa Teknologi Global, ICEx Siap Tancap Gas

Kebutuhan aluminium dunia melonjak tajam sejak 2017, seiring meningkatnya tren elektrifikasi kendaraan dan konstruksi ramah lingkungan. Jepang memproyeksikan kebutuhan aluminium mencapai 2 juta ton pada 2025, sedangkan Cina mencatat permintaan hingga 17,3 juta ton untuk sektor kendaraan listrik, konstruksi, dan energi baru terbarukan.

Ferdy menjelaskan, aluminium kini menjadi logam yang sangat dibutuhkan karena setiap kendaraan listrik membutuhkan 300–400 kilogram aluminium untuk struktur bodinya.

img_title Di Balik Gadget dan EV, Permintaan Timah Global Melonjak Tajam

“Industri otomotif dunia yang sedang bertransisi ke kendaraan listrik sangat bergantung pada pasokan aluminium,” kata Ferdy.

Di tengah meningkatnya permintaan global itu, Indonesia berada dalam posisi yang sangat strategis. INALUM memiliki kapasitas produksi lebih dari 300 ribu ton aluminium per tahun, menjadikannya produsen terbesar di Asia Tenggara. Tak hanya itu, kebutuhan bahan baku alumina kini diperkuat lewat proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat.

Halaman Selanjutnya
img_title