Pasca COVID-19, AI dan Platform Digital Didorong Lawan Disinformasi Medis

Rapid tes antigen dan swab PCR
Sumber :
  • VIVA/Dede Idrus

Pertama, memerangi misinformasi dan disinformasi melalui kolaborasi pemerintah, platform digital, dan komunitas sains. Kedua, mengembalikan kepercayaan publik terhadap lembaga kesehatan dan otoritas ilmiah. Ketiga, membangun mekanisme respons cepat berbasis teknologi, termasuk sistem rantai pasok yang lebih tangguh.

img_title Aplikasi AI Ini Siap Ubah Cara Jamaah Indonesia Ibadah Umrah dan Haji

Ia menilai, tanpa kepercayaan publik, secanggih apa pun infrastruktur kesehatan tidak akan berjalan efektif saat krisis.

Fenomena ini menjadi pelajaran penting dari pandemi COVID 19, di mana penolakan vaksin, ketidakpercayaan terhadap rumah sakit, hingga maraknya pengobatan palsu sempat menghambat penanganan wabah di berbagai negara.

img_title Ketika Teknologi dan Tradisi Berjalan Berdampingan

Dalam konteks Indonesia, Schicker melihat langkah penguatan sistem kesehatan yang tengah berjalan sudah berada di jalur tepat. Namun, ia mengingatkan bahwa transformasi digital harus berjalan beriringan dengan edukasi publik.

Platform digital bukan hanya sumber masalah, tetapi juga bagian dari solusi. Teknologi dapat digunakan untuk menyebarkan informasi kesehatan yang akurat, mempercepat klarifikasi hoaks, serta membangun komunikasi krisis yang transparan dan real-time.

img_title Riset dan Inovasi Jadi Kunci Solusi Industri di Era Transformasi Teknologi

Ke depan, ia menilai ancaman pandemi baru maupun risiko biologis lain akan menuntut kesiapan yang jauh lebih kompleks, bukan hanya dari sisi medis, tetapi juga ekosistem informasi digital.

Dengan kata lain, ketahanan kesehatan di era modern tak cukup dibangun dengan alat medis dan tenaga kesehatan. Ia juga harus diperkuat dengan teknologi data, kecerdasan buatan, serta ekosistem informasi yang kredibel agar kepercayaan publik tetap terjaga saat krisis datang.