Di Balik Gadget dan EV, Permintaan Timah Global Melonjak Tajam
- Antara
Namun di tengah lonjakan permintaan tersebut, pasokan timah global justru menghadapi berbagai tantangan. Sejumlah negara produsen mengalami gangguan operasional hingga ketidakpastian kebijakan yang berdampak langsung pada produksi. Akibatnya, keseimbangan pasar menjadi semakin ketat.
Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi pasar timah bahkan cenderung mengalami defisit, di mana pertumbuhan permintaan melampaui peningkatan pasokan. Situasi ini membuat harga timah menjadi sangat fluktuatif dan rentan terhadap perubahan kondisi pasar.
Data menunjukkan harga timah global melonjak tajam dalam waktu singkat. Dari kisaran US$36.435 per ton pada Oktober 2025, harga naik menjadi sekitar US$55.005 per ton pada Januari 2026. Lonjakan ini mencerminkan tekanan kuat dari sisi pasokan, sekaligus tingginya kebutuhan dari industri teknologi global.
Indonesia sebagai salah satu produsen timah terbesar di dunia memiliki peran strategis dalam dinamika ini. Dengan cadangan yang besar dan pengalaman panjang dalam pengelolaan pertambangan, Indonesia menjadi salah satu penentu penting dalam menjaga keseimbangan pasokan global.
Produksi timah nasional sempat mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Setelah mencapai sekitar 65.000 ton pada 2023, produksi turun menjadi 45.000 ton pada 2024, sebelum kembali meningkat ke kisaran 50.000 ton pada 2025.
Pengetatan tata kelola pertambangan, termasuk penertiban aktivitas ilegal, turut memengaruhi suplai di pasar global. Langkah ini dinilai efektif dalam menekan praktik penyelundupan, namun di sisi lain juga berdampak pada berkurangnya pasokan tidak resmi yang sebelumnya beredar di pasar internasional.
Meski kenaikan harga memberikan keuntungan bagi produsen, kondisi ini juga menyimpan risiko. Harga yang terlalu tinggi berpotensi menekan industri pengguna, termasuk sektor elektronik, yang sangat bergantung pada stabilitas biaya bahan baku.