Kunci Tidur Berkualitas Selama Ramadhan, Bukan Lagi soal Durasi
- Harvard Health
Digital, VIVA - Tantangan terbesar selama bulan suci Ramadhan bukan hanya mengatur pola makan tapi juga tidur. Bangun untuk sahur pada dini hari kerap membuat kita merasa memiliki "utang tidur" (sleep debt), yang berujung pada rasa lemas, sulit fokus, hingga emosi yang tidak stabil di siang hari.
Namun, Ramadan tahun ini berbeda. Fokusnya bukan lagi mengejar kuantitas tidur 8 jam yang sulit dicapai, melainkan melakukan revolusi kualitas tidur dengan bantuan teknologi pintar.
Kualitas vs Kuantitas
Selama Ramadhan, ritme sirkadian tubuh mengalami 'kebingungan' dimana ada bentrokan antara jam istirahat dan jam makan - istilah ini dikenal dengan nama Circadian Misalignment.
Menurut Vishal Dasan Certified Sleep and Recovery Coach, perubahan jam tidur itulah yang bisa mengganggu stabilitas emosi dan fokus. Oleh karena itu, kita tetap harus menjaga kualitas tidur.
“Ramadan membuat ritme sirkadian kita mengalami sedikit penyesuaian. Perubahan jam tidur bisa mengganggu stabilitas emosi dan fokus kita seharian. Kuncinya bukan seberapa lama kita tidur, tapi seberapa berkualitas istirahat tersebut tapi seberapa berkualitas istirahat tersebut,” ujarnya.
Banyak studi melaporkan bahwa selama Ramadhan, durasi tidur terpangkas secara signifikan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana caranya, meskipun tidur kita terpangkas, kita masih bisa mengoptimalkan kualitas pemulihanya.